You are currently browsing the monthly archive for January, 2007.

ada satu quote yang bagus dari kartunis argentina, Maitena
“Women are not all the same, but the same things happen to us”

Pernah kah anda para wanita di luar sana merasa patah hati, putus asa, tidak bersemangat karena ditimpa kemalangan, diputusin pacar, cinta bertepuk sebelah tangan, atau hal2 yang menyedihkan untuk diratapi?

Tentu saja! Setiap wanita pasti pernah mengalami ini. Dan saya pribadi pun mengalami dan menjadi saksi hidup mereka yang mengalami hal serupa. Saat ini saya bisa tertawa lebar bila ingat mantan pacar meninggalkan saya begitu saja untuk bersama wanita lain. Tapi pada saat itu, tentu saja… seperti gadis yang rapuh saya menangis di malam hari memutar lagu2 sedih dan membayangkan wajahnya dan membayangkan kata2 manis (*yang pastinya bullsh*T) yang keluar dari mulutnya yang saya pikir tulus dan hanya untuk saya. Atau masa2 lalu, menangis karena ada orang yang berbuat “jahat”, dan berkata yang tidak2 di belakang saya.

Bukan hanya saya tentu nya. Ada beberapa gadis disana menyukai seorang pria dan tidak mendapat balasan yang sama. Atau menjalin hubungan dengan seorang pria selama bertahun2 dan akhirnya dicampakkan untuk mengejar wanita lain. Dan mungkin saja mereka melakukan yang akan saya lakukan : memutar lagu2 sedih, mengenang masa2 menyenangkan bersama, mengingat kata2 manis yang keluar dr mulut mereka, dan kemudian meratapi nasib untuk beberapa lama.

Jelas sekali, tidak ada seorang pun yang berhak menerima cinta kita bila mereka tidak bisa menghargai, menerima kita, dan membalas hal yang sama seperti yang kita lakukan. Yaa… pria2 di luar sana masih banyak dan diri anda terlalu berharga untuk terkungkung dalam kesedihan.

Sebenarnya, saya sendiri putus cinta bukanlah masalah yang terlalu besar untuk dipikirkan. Selama ini saya mungkin belum mengalami jatuh cinta yang sebenarnya dan rela mati jika ditinggal si pria. Karena umur masih muda, masih terpampang banyak kesempatan untuk diraih. So… kenapa enggak raih semua itu dan tunjukkan pada mereka yang telah meninggalkan anda bahwa anda berharga.

Namun, saya mendapat pelajaran berharga untuk dikaji ulang. Jika seorang wanita menjalin suatu hubungan dengan seorang pria selama beberapa tahun… dan merencanakan untuk membangun kehidupan rumah tangga bersama, saling mengenal keluarga masing2… bukankah akan lebih menyakitkan jika si pria meninggalkannya?.. Ya, saya sendiri menjadi saksi dan ingin membagi ini. Suliat memang melupakan kenangan2 yang terekam selama beberapa tahun bersama. Kata2 yang terangkai dalam mimpi membangun suatu ikatan yang suci. Namun di hempas begitu saja dan menjadi puing2 yang tak berbentuk lagi.

Yah… cerita ini dialami oleh Elly, ya… sebut saja demikian. Berpacaran dengan pria yang sama selama 9 tahun dan bertunangan setelah 5 tahun berpacaran tentu saja banyak yang terjadi pada mereka. Sementara Elly bekerja di Belanda, Adit meneruskan S2 nya di Inggris. Hubungan cinta kasih ini pun tidak bertaut pada 2 hati lagi, tapi menautkan 2 keluarga. Keluarga Adit dan Elly sudah merencanakan hari bahagia itu, namun… beberapa bulan setelah pertemuan keluarga ini, Adit mulai merubah sikapnya, dingin, cuek dan gak mau bicara banyak. Apakah yang terjadi? Apa ada wanita lain di ujung dunia sana yang bersangkar di hatinya? Kenapa dia berubah, dia bukan seperti Adit! Yaa.. demikianlah pikiran2 yang berkecamuk pada diri Elly. Sampai suatu malam… Elly tidak tahan akan sikap dingin Adit dan memutuskan meminta kejelasan.
“Kenapa sih kamu seperti ini, lagi banyak kerjaan yah?” ujar Elly setelah mendengar jawaban Adit yang gak terlalu antusias.
“Iya. Gw lg banyak kerjaan” sahut Adit dingin
“Kamu gak suka aku telfon? Kenapa akhir2 ini kamu dingin Dit? Aku salah apa?”
“Gak ada yang salah. Gw Cuma capek. Lagi banyak kerjaan. That’s all.”
“Kenapa sih? Gak biasa2 nya kamu begini. Dingin, Cuek, Jutek. Seperti bukan kamu. Apa yang salah? Apa salah aku???” Elly meracau terbakar emosi.
“Bukan. Gak ada yang salah… gw rasa gw ilfil ama kamu”
“APA???!!!” lengking Elly tak percaya.
“Yaa.. gw kayaqnya udah gak ada greget lagi ama kamu Ly”
“Dit… kamu ngomong apa sih? Kamu becanda kan?? Gak mungkin… baru beberapa bulan yang lalu kita ketemu, baru beberapa bulan yang lalu orang tua kita ketemu. Jangan begini Dit, Please…”
“Yaa… gw udah memikirkan ini Ly, gw gak bisa sama2 kamu kalo gw ngerasa udah gak ada rasa. Gw ama kamu tuh udah kayaq temen ajah. Mgkn kita terlalu lama pacaran kali yah. 9 tahun.. yaa… mungkin gw terlalu tau kamu. Sampe gw gak bisa ngerasain apa2 lagi”
“Maksud kamu apa? Ini bukan Adit! Pasti ada cewe lain kan??? Jawab Dit!! Jawab!!!”
“Gak ada. Ini murni apa yang gw rasain. Bukan karena cewe lain. Udahlah Ly, kita gak bisa jd satu, gw gak mau punya perkawinan yang berantakan gara2 gw memaksakan kehendak”
“…” Elly terdiam dan terisak…
“Kamu adalah cewek yang paling baik yang gw kenal, ama kamu i’ve turned from the ugly duckling into a beautiful swan. Kamu yang mengajarkan aku semuanya, kamu yang memberikan apa yang gak pernah gw dapetin sebelumnya. Gw bahagia sama kamu Ly.. tapi… gw butuh rasa cinta, yang menggelora untuk membangun rumah tangga. Dan itu gak gw rasain ama kamu skrg. Kamu adalah wanita yang terbaik yang pernah gw kenal, pasti kamu akan mendapatkan yang terbaik.” Suara Adit melemah dan simpatik
“…” Elly terdiam dan berhenti menangis…
akhirnya Elly pun bersuara “Kalau memang kamu benar2 merasa aku adalah cewek terbaik untuk kamu, kenapa kamu tinggalkan aku. Iya, aku rasa memang sudah tidak ada rasa, bahkan tidak ada rasa kasihan dan terimakasih untuk aku. Hehe… Lucu memang Dit, dulu kamu mengejar2 aku sampai di jogja untuk melamar aku. Kamu mengejar2 aku sampai ke depan rumah orang tua aku untuk meminta aku. Lucu kalo aku tau bakal begini akhirnya. Yah.. mgkn memang kita gak berjodoh yaa Dit. Aku cuman memikirkan bagaimana sakit nya hati orang tua aku, 9 tahun… yaa.. 9 tahun bukan waktu yang sebentar. Dan ternyata berakhir seperti ini.”
“Orang tua kamu pasti bisa mengerti Ly, mereka juga gak mau kalo kita menikah dan akhirnya akan bercerai juga. Begini lebih baik” balas Adit tak berperasaan.
“hmm… Kamu inget gak, dulu… saat kita kuliah dan kita belajar bersama? ”
“ya.. kamu yang selalu mengajari aku. Kamu bahkan membantu aku mengerjakan tugas akhir.” ujar Adit lirih
“iyah. Aku mau nilai kamu sebagus nilai aku, karena aku tau kamu hanya pemalas yang tidak mau belajar.. tapi sebenernya kamu itu pinter dan pasti jd orang yang sukses. Hmm.. Dan kamu inget gak, dulu… saat2 kita tour keliling europe? Kita bahagia sekali, bahkan aku berfikir akan kesana lagi dengan kamu suatu saat nanti… tapi kayaqnya itu skrg gak mungkin” suara Elly datar tapi mantap
“Elly… maafin gw…”
“Gak. Gak perlu Dit” Elly memotong. “Semua sudah terjadi. Yah… mungkin kita memang belum berjodoh. Aku percaya bahwa aku bisa menemukan seseorang yang terbaik suatu saat nanti.. dan semoga saja kamu bahagia dengan orang yang baru” ujar Elly mantap.
“Gak. Gak ada orang baru” Adit mengelak
“Ya.. mungkin, tapi pasti akan ada…”
“ah… maafin gw Ly…”
“Sudahlah Dit, besok aku mau kerja… udah malem… aku harus tidur… well… semoga kamu bahagia. Bye…”
“tapi Ly..”
Elly menutup telfon dan seperti semua wanita mengalaminya bila putus cinta. Ia menangis sesenggukan sampai mata bengkak.. segala memori masa lalu seakan automatically rewinded di kepala nya… gak ada yang bisa ia lakukan selain menangis… diam untuk beberapa waktu dan menangis lagi.. ketika waktu menjelang subuh Elly memutuskan untuk membagi penderitaan dengan ibu nya tercinta, ia menekan phone details bertuliskan “mamah” dan…
*nada sambung terdengar…
“Halo… mamah…” suara tangisnya pun pecah kembali…

Demikian lah ilustrasi kejadian yang bisa saya gambarkan. Dan perlu diketahui, kisah diatas adalah nyata, dengan nama2 tokoh yang disamarkan.

Seperti yang anda baca diatas, langkah yang Elly ambil untuk menghubungi orang yang ia kasihi dan mengasihinya adalah benar. Setelah kita merasa diri kita tidak aman, tidak lagi nyaman. Yang harus kita lakukan adalah: Ceritakan hal2 yang membuncah di otak dan hati kita, luapkan rasa sedih dan marah sewajarnya, berkumpullah dengan orang2 yang mencintai kita (papa, mama, adik2, kakak, teman2, cs…) jangan biarkan otak kita kosong, isilah hari2 kita dengan lebih menyibukkan diri untuk kegiatan2 yang berarti, dan yang terpenting… keluar… bertemu orang baru… lakukan hal2 yang belum pernah kita lakukan sebelumnya, lakukan hal2 yang membuat kita merasa bahagia, aman dan nyaman.

Kalau Elly saja bisa kenapa anda tidak???

PS. Elly sekarang sudah menemukan orang baru, di usianya yang kepala 3… sudah 2 taun sejak putus dr Adit, dan Elly enjoy saja tuh… hidup ini sudah susah, buat apa dibuat lebih susah??? :) terlalu banyak hal yang menantang dan menghadang kita didepan, daripada menghabiskan waktu meratapi diri, mending juga bangkit dan menemukan “anda yang baru”!!!

metamorphing berasal dari kata dasar metamorph, dalam bahasa indonesia berarti perubahan berkala yang melewati pelbagai proses. Lewat journal ini saya harap saya akan dapat berubah lewat tahapan dalam koridor yang luas, dengan bahasa penuturan yang seadanya, dan semoga saja ke arah yang lebih baik :)

menilik balik ke dua puluh dua tahun yang lalu, saya lahir dari rahim seorang mama yang cinta dan kasih nya sangat besar untuk keluarga dan anak2 nya. Dengan berkah papa yang sangat bertanggung jawab, penuh kasih sayang dan imam yang baik untuk keluarga. Ya… saat itu 17 Juni 1984, di RS Restu Ibu seingat saya… dan waktu di setting tengah malam (*begitulah menurut cerita mama). Gak perlu diragukan lagi detik2 tersebut adalah pertarungan antara hidup dan mati buat mamah (*konon saya sempat terlilit tali pusat beberapa bulan menjelang kelahiran).

Ummy kecil lahir, dengan nama Ummy Zullucky binti Basuki. Dan nama Basuki inilah yang selalu saya bawa bahkan setelah saya menikah nanti saya akan meletakkan nama suami setelah nama papa tercinta :) singkat kata, si bayi mungil nan lucu bernama Ummy ini mulai tumbuh besar di Balikpapan. Ummy kecil tinggal di dataran tinggi teratas di kota minyak itu. Dengan rumah yang terlalu besar untuk papa, mama, seorang nenek, seorang paman dan dua kakak, Ummy kecil seharusnya merasa selalu ada banyak tempat untuk dijelajah. Tapi… karena perbedaan umur yang cukup jauh dengan saudara tuanya, di rumah itu ia merasa kesepian.

Masih lekat dalam ingatan, Ummy kecil sering sekali main2 di taman depan, taman anggrek mama dan kebun belakang rumah, dan selalu dipanggil masuk karena mama kuwatir banyak nyamuk yang menggigit dan meninggalkan noda diatas kulit kuning duku anak tersayangnya. Dan sekarang saya rasa baru merasa menyesal kenapa selalu membantah ;) ada noda2 kenakalan masa kecil yang entah kapan bisa hilang dengan sendirinya.

Tiba saatnya bersekolah, sebagian masa kecil yang saya habiskan di Balikpapan ternyata cukup berbeda di Malang. Belajar sepeda roda dua saat kelas 5 SD dan pada akhirnya mempunyai teman2 seumuran di lingkungan rumah. Namun di masa itu, karena masih sangat awam dengan daerah baru, mamah justru memberikan extra proteksi untuk melindungi anak bungsunya.

“Extra Proteksi”???, ya… Bahkan saat kelas 6 SD mamah udah dag dig dug karena ada yang menulis surat cinta dan memberikan mawar merah pada saya :D haha… lucu memang kalo kilas balik ke masa2 itu. Dan setiap ada teman lelaki saya yang menelepon lebih dr 5 menit mama pasti selalu manggil saya untuk mengerjakan tugas yang lain, yang berarti saya harus cukup “Tau Diri” untuk mengakhiri percakapan. Hal ini berlangsung dari saya SD, SMP, sampe akhirnya SMA.. Walau pada akhirnya ini membuat pergaulan saya terbatas (*karena jarang keluar rumah tanpa pendamping) toh saya enjoy saja.

Aneh memang.. ada saja laki2 kecil yang naksir, karena seingat saya… saat kecil mamah selalu rajin mengajak saya potong rambut untuk merapikan rambut. Dan selalu nya rambut berpotongan pendek yang dipilih, entah itu model bob, model poni, model Demy Moore (*saya rasa potongan itu cukup ngetren saat itu). Dan mungkin saja model potongan rambut itu mempengaruhi sikap sehari2 saya yang tomboy dan keras kepala. Ssstt… bahkan saya sempet berantem dengan teman SD berinisial *AN karena bilang saya punya “big boobs” dan *YP karena mengambil buku catatan saya… hihihi  :D

Sampai pada saat2 masuk SMP saya mulai memanjangkan rambut, gak panjang2 banget memang tapi setidaknya sampai di bawah telinga :P dan mencoba sedikit lebih “beradab” dan ”kewanitaan”… di sini lah saya mencoba2 main api dan ingin tau pacaran itu seperti apa. Saat itu saya SMP kelas 2, model potongan rambut bob, dan dandanan yang cukup girly :D Nah disinilah saya ketemu si A. A ini tipikal cowo yang cukup digilai anak2 sepantaran saya, dr keluarga yang baik2, prestasi di sekolah yang excellent, pemain gitar handal dan wajah yang lumayan bikin greget dan badan yang proporsional. A melakukan pendekatan yang cukup intense, dan saya harus rela di marahin mama karena kenekatan saya untuk bertelpon2an dengan seorang cowo. Dan keadaan sebaliknya, semua cewe di sekolah itu iri pada saya :D hihihi… Bahkan beberapa diantaranya berubah jutek.

Hmmm, tapi setelah jadi dalam istilah “PACAR” dengan A semuanya jadi gak seru lagi, mgkn lebih seringnya saya merasa bete karena setiap A telpon (*yang notabene menjadi lebih sering dari biasanya) menjadi siksaan tersendiri di rumah. Dan pada puncaknya, mgkn sekitar 2 minggu setelah itu… si A potong rambut, dan saya mendadak ilfil dibuatnya. Alasan yang lucu memang, tapi entah kenapa alasan yang lucu itu menyelamatkan saya dari ketidak luguan anak abg :D hehehe…. alasan itu juga mendukung keinginan saya untuk kembali lebih dekat dgn mama. Saya mengatakan putus tanpa beban dan setelah itu saya mencoba berbagai potongan rambut pendek lain, meskipun nyaman, tapi sepertinya gak ada yang benar2 pas karena saya gemar sekali gonta ganti potongan rambut. (*memang gak ada hubungan antara potongan rambut dgn isi hati seseorang, saya gak tau knp bisa menulis ini :P )

Menginjak SMA… saya bisa lebih “behave” dengan lingkungan baru. Dengan teman2 baru dan sebagian teman SMP, saya selalu merasa ada keajaiban jika diletakkan di kelas favorit tempatnya orang2 pinter, karena saya gak pernah sadar akan kepintaran itu. Otomatis, teman2 itu bertahan sampai 3 tahun lamanya.

Di awal SMA, ada kakak kelas yang mencoba dekat2 saat ospek, sebut saja dia B. si B ini rupanya tidak terlalu disukai temen2 karena menurut mereka dia terlalu “show off”… yaahh.. setidaknya begitu jg menurut saya. Kemudian, ada lagi senior berinisial M dan AD yang mendekati saya dengan cara yang lebih simpatik tidak lama berselang. Tidak perlu membahas lebih dalam ttg pria2 yang terlibat percintaan dan pendekatan pada saya :D. Karena title ini bukan lah berfokus pada percintaan. Yang mau coba saya sampaikan adalah… rasa suka pada lawan jenis tampaknya tidak bisa merubah siapa saya saat itu. Saya merasa tidak ada perubahan yang signifikan antara masa SMP dan SMA.

Singkat cerita, tahun 2002 saya tamat SMA dan meneruskan sekolah ke salah satu universitas di Bandung (STT TELKOM BANDUNG). Naahh… disinilah saya dilepas, hidup jauh dari orang tua, bertanggung jawab akan keuangan jatah yang diberikan papa, bertanggung jawab untuk sukses dalam edukasi, dan bertanggung jawab sukses dalam spiritual dan personal. Inilah cerita yang mungkin banyak akan dibahas pada posting2 selanjutnya untuk menceritakan metamorph personal.

PS. Mohon maaf pada mereka aktor yang terkait dalam paparan singkat saya yang mungkin akan muncul pada title berikutnya. Sekali lagi ini adalah kisah nyata, dan tidak ada yang dilebih2kan ataw dikurangi… hanya mungkin sedikit di samarkan untuk menghormati pihak2 yang terkait :)

Archives

Blog Stats

  • 1,247 hits

Top Clicks

  • None

Top Posts

  • None