metamorphing berasal dari kata dasar metamorph, dalam bahasa indonesia berarti perubahan berkala yang melewati pelbagai proses. Lewat journal ini saya harap saya akan dapat berubah lewat tahapan dalam koridor yang luas, dengan bahasa penuturan yang seadanya, dan semoga saja ke arah yang lebih baik :)

menilik balik ke dua puluh dua tahun yang lalu, saya lahir dari rahim seorang mama yang cinta dan kasih nya sangat besar untuk keluarga dan anak2 nya. Dengan berkah papa yang sangat bertanggung jawab, penuh kasih sayang dan imam yang baik untuk keluarga. Ya… saat itu 17 Juni 1984, di RS Restu Ibu seingat saya… dan waktu di setting tengah malam (*begitulah menurut cerita mama). Gak perlu diragukan lagi detik2 tersebut adalah pertarungan antara hidup dan mati buat mamah (*konon saya sempat terlilit tali pusat beberapa bulan menjelang kelahiran).

Ummy kecil lahir, dengan nama Ummy Zullucky binti Basuki. Dan nama Basuki inilah yang selalu saya bawa bahkan setelah saya menikah nanti saya akan meletakkan nama suami setelah nama papa tercinta :) singkat kata, si bayi mungil nan lucu bernama Ummy ini mulai tumbuh besar di Balikpapan. Ummy kecil tinggal di dataran tinggi teratas di kota minyak itu. Dengan rumah yang terlalu besar untuk papa, mama, seorang nenek, seorang paman dan dua kakak, Ummy kecil seharusnya merasa selalu ada banyak tempat untuk dijelajah. Tapi… karena perbedaan umur yang cukup jauh dengan saudara tuanya, di rumah itu ia merasa kesepian.

Masih lekat dalam ingatan, Ummy kecil sering sekali main2 di taman depan, taman anggrek mama dan kebun belakang rumah, dan selalu dipanggil masuk karena mama kuwatir banyak nyamuk yang menggigit dan meninggalkan noda diatas kulit kuning duku anak tersayangnya. Dan sekarang saya rasa baru merasa menyesal kenapa selalu membantah ;) ada noda2 kenakalan masa kecil yang entah kapan bisa hilang dengan sendirinya.

Tiba saatnya bersekolah, sebagian masa kecil yang saya habiskan di Balikpapan ternyata cukup berbeda di Malang. Belajar sepeda roda dua saat kelas 5 SD dan pada akhirnya mempunyai teman2 seumuran di lingkungan rumah. Namun di masa itu, karena masih sangat awam dengan daerah baru, mamah justru memberikan extra proteksi untuk melindungi anak bungsunya.

“Extra Proteksi”???, ya… Bahkan saat kelas 6 SD mamah udah dag dig dug karena ada yang menulis surat cinta dan memberikan mawar merah pada saya :D haha… lucu memang kalo kilas balik ke masa2 itu. Dan setiap ada teman lelaki saya yang menelepon lebih dr 5 menit mama pasti selalu manggil saya untuk mengerjakan tugas yang lain, yang berarti saya harus cukup “Tau Diri” untuk mengakhiri percakapan. Hal ini berlangsung dari saya SD, SMP, sampe akhirnya SMA.. Walau pada akhirnya ini membuat pergaulan saya terbatas (*karena jarang keluar rumah tanpa pendamping) toh saya enjoy saja.

Aneh memang.. ada saja laki2 kecil yang naksir, karena seingat saya… saat kecil mamah selalu rajin mengajak saya potong rambut untuk merapikan rambut. Dan selalu nya rambut berpotongan pendek yang dipilih, entah itu model bob, model poni, model Demy Moore (*saya rasa potongan itu cukup ngetren saat itu). Dan mungkin saja model potongan rambut itu mempengaruhi sikap sehari2 saya yang tomboy dan keras kepala. Ssstt… bahkan saya sempet berantem dengan teman SD berinisial *AN karena bilang saya punya “big boobs” dan *YP karena mengambil buku catatan saya… hihihi  :D

Sampai pada saat2 masuk SMP saya mulai memanjangkan rambut, gak panjang2 banget memang tapi setidaknya sampai di bawah telinga :P dan mencoba sedikit lebih “beradab” dan ”kewanitaan”… di sini lah saya mencoba2 main api dan ingin tau pacaran itu seperti apa. Saat itu saya SMP kelas 2, model potongan rambut bob, dan dandanan yang cukup girly :D Nah disinilah saya ketemu si A. A ini tipikal cowo yang cukup digilai anak2 sepantaran saya, dr keluarga yang baik2, prestasi di sekolah yang excellent, pemain gitar handal dan wajah yang lumayan bikin greget dan badan yang proporsional. A melakukan pendekatan yang cukup intense, dan saya harus rela di marahin mama karena kenekatan saya untuk bertelpon2an dengan seorang cowo. Dan keadaan sebaliknya, semua cewe di sekolah itu iri pada saya :D hihihi… Bahkan beberapa diantaranya berubah jutek.

Hmmm, tapi setelah jadi dalam istilah “PACAR” dengan A semuanya jadi gak seru lagi, mgkn lebih seringnya saya merasa bete karena setiap A telpon (*yang notabene menjadi lebih sering dari biasanya) menjadi siksaan tersendiri di rumah. Dan pada puncaknya, mgkn sekitar 2 minggu setelah itu… si A potong rambut, dan saya mendadak ilfil dibuatnya. Alasan yang lucu memang, tapi entah kenapa alasan yang lucu itu menyelamatkan saya dari ketidak luguan anak abg :D hehehe…. alasan itu juga mendukung keinginan saya untuk kembali lebih dekat dgn mama. Saya mengatakan putus tanpa beban dan setelah itu saya mencoba berbagai potongan rambut pendek lain, meskipun nyaman, tapi sepertinya gak ada yang benar2 pas karena saya gemar sekali gonta ganti potongan rambut. (*memang gak ada hubungan antara potongan rambut dgn isi hati seseorang, saya gak tau knp bisa menulis ini :P )

Menginjak SMA… saya bisa lebih “behave” dengan lingkungan baru. Dengan teman2 baru dan sebagian teman SMP, saya selalu merasa ada keajaiban jika diletakkan di kelas favorit tempatnya orang2 pinter, karena saya gak pernah sadar akan kepintaran itu. Otomatis, teman2 itu bertahan sampai 3 tahun lamanya.

Di awal SMA, ada kakak kelas yang mencoba dekat2 saat ospek, sebut saja dia B. si B ini rupanya tidak terlalu disukai temen2 karena menurut mereka dia terlalu “show off”… yaahh.. setidaknya begitu jg menurut saya. Kemudian, ada lagi senior berinisial M dan AD yang mendekati saya dengan cara yang lebih simpatik tidak lama berselang. Tidak perlu membahas lebih dalam ttg pria2 yang terlibat percintaan dan pendekatan pada saya :D. Karena title ini bukan lah berfokus pada percintaan. Yang mau coba saya sampaikan adalah… rasa suka pada lawan jenis tampaknya tidak bisa merubah siapa saya saat itu. Saya merasa tidak ada perubahan yang signifikan antara masa SMP dan SMA.

Singkat cerita, tahun 2002 saya tamat SMA dan meneruskan sekolah ke salah satu universitas di Bandung (STT TELKOM BANDUNG). Naahh… disinilah saya dilepas, hidup jauh dari orang tua, bertanggung jawab akan keuangan jatah yang diberikan papa, bertanggung jawab untuk sukses dalam edukasi, dan bertanggung jawab sukses dalam spiritual dan personal. Inilah cerita yang mungkin banyak akan dibahas pada posting2 selanjutnya untuk menceritakan metamorph personal.

PS. Mohon maaf pada mereka aktor yang terkait dalam paparan singkat saya yang mungkin akan muncul pada title berikutnya. Sekali lagi ini adalah kisah nyata, dan tidak ada yang dilebih2kan ataw dikurangi… hanya mungkin sedikit di samarkan untuk menghormati pihak2 yang terkait :)